Cerita sukses Natanael 'intel' Ahok

Penulis: darmansyah
Minggu, 5 Mei 2013 17:55:18
Cerita sukses Natanael 'intel' Ahok
Kategori Jakarta





Istilah 'intel' pertama kali saya dengar ketika sebagai mahasiswa junior sering ikut-ikutan acara diskusi yang diselenggarakan oleh kelompok mahasiswa senior di kampus pada awal 1997-an. Pada waktu itu organisasi Menwa (Resimen Mahasiswa) masih berjaya. Salah seorang di antara anggota Menwa itu dijuluki spion Melayu. Kebetulan dia pernah dikirim ke Timor-Timur, entah apa tugasnya di sana.

Akan tetapi di kalangan kampus dia dikenal sebagai spion alias intel. Benar tidaknya tidak ada yang tahu, saya tidak pernah menanyakan kepadanya. Kebetulan dia lebih senior dari saya. Hal yang saya ingat, ia bangga dengan gelar intel atau spion Melayu itu. Rambutnya selalu dicukur ala Kevin Costner dalam film Body Guard. Dia juga suka mengenakan jaket tebal berwarna hijau yang ketika itu dikenal sebagai jaket Korea, sekalipun mentari sedang bersinar terik.

Mengapa disebut spion Melayu? Menurut senior saya waktu itu yang sekarang telah menjadi anggota DPR-RI, spion Melayu berbeda dengan intel barat, misalnya spion CIA dari Amerika Serikat atau anggota M-16 dari Inggris. Intel Melayu sekalipun tugasnya bersifat rahasia, selalu menunjukkan 'sesuatu' yang memungkinkannya dengan mudah dikenali sebagai spion. Misalnya, seperti teman yang digelari spion Melayu tadi, dengan bercukur pendek ala militer.

Bisa juga dengan mengenakan baju kaos ketat sehingga gagang pistolnya menonjol di pinggangnya. Bahkan, kata teman itu, intel Melayu kadang-kadang dengan sengaja menyenggolkan gagang pistolnya kepada orang-orang di sekitarnya supaya dikenali.

Ini berbeda sekali dengan intel di negeri George Walker Bush, Amerika Serikat. Mereka paling tidak seperti sering kita saksikan di film-film Hollywood bekerja dengan kerahasiaan tinggi. Saking rahasianya, kadang-kadang istri dan anaknya tidak tahu. Mereka menyamar sebagai wartawan, pedagang, pengusaha hingga diplomat. Di negara itu, menyingkapkan identitas seorang intel dianggap sebagai sebuah kejahatan serius dan harus berakhir di pengadilan.

Cerita tentang intel Melayu ini tiba-tiba saya ingat kembali setelah membaca Merdeka.com edisi Sabtu, 4 Mei 2013. Merdeka.com, misalnya, menyajikan headline: Cerita 'Intel' Ahok yang Sukses Bongkar Belang Lurah Warakas. Isinya tentang Natanael, orang kepercayaan Ahok yang ditugaskan menjadi 'intel' di Rusun Marunda. Dalam hitungan pekan, Natanael langsung sukses menjalankan tugasnya sebagai 'intel'. Ia menemukan banyak permainan di Rusun Marunda. Salah satunya adalah, pemilik menyewakan rusun kepada orang lain.

Dalam menjalankan pekerjaannya sebagai 'intel', Natanel mungkin tidak kerja sendiri. Ia mempercayakan Dede orang kepercayaannya untuk menyelidiki mafia dan calo di Rusun Marunda, Jakarta Utara. Sebagai 'intel', salah satu yang Natanael temukan adalah rusun milik Mulyadi.

Lurah Warakas itu mempunyai rusun di Blok I Marunda. Rusun itu dipergunakan tidak semestinya yaitu disewakan kepada orang lain dengan sewa 1,25 juta perbulan. Dengan sewa sebesar itu, tiap bulannya Mulyadi bisa mengantongi Rp 1,1 juta.

Terbongkarnya kecurangan Mulyadi tentu tidak lepas dari kerja 'intel' Natanael. Siapa sebenarnya Natanael ini? Natanael adalah pria kelahiran Jakarta. Ia masih ada keturunan darah Batak.

Meski bekerja sebagai 'intel' Ahok, Natanael bukanlah pegawai negeri sipil (PNS) Jakarta. Dia mengaku hanya bekerja membantu Ahok di balik layar. Natanael lantas menjelaskan asal muasal menjadi 'intel' pengawas rusun. Sekitar empat bulan lalu, Ahok memintanya untuk mengawasi praktik calo di rusun yang ada di Ibu Kota, namun yang diutamakan lebih dahulu di Marunda.

"Ya Pak Ahok waktu itu minta saya untuk urusin rusun, katanya saya berpengalaman sering ke lapangan dan turun ke masyarakat. Tapi saya difokuskan untuk Rusun Marunda karena memang untuk relokasi warga banjir Waduk Pluit," jelasnya.

Selama bekerja, ia mengaku tidak mendapat gaji dari negara. Tiap bulannya, ia mendapat gaji dari kantong pribadi Ahok. "Ya saya bukan PNS, dan di gaji dari kantong pribadi Pak Ahok," katanya.

Terus terang, saya awam soal perintelan. Jika Ahok berhasil menyusupkan 'intel' untuk menyelidiki mafia atau calo di Rusun Marunda, mengapa tidak melakukan hal itu di Rusun Waduk Pluit dan Pulogebang? Boleh jadi tidak akan ada 'penguasa' seperti Mulyadi yang memiliki rusun di Marunda, kalau spion atau 'intel' menyusup ke 'calo' rusun. Mungkin juga jika 'intel' Ahok ini dilakukan, tidak akan ada warga Waduk Pluit yang 'bergejolak' di Jalan Raya Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.


Artikel ini ditulis oleh : Darmansyah

  • Merdeka.com tidak bertanggung jawab atas hak cipta dan isi artikel ini, dan tidak memiliki afiliasi dengan penulis.
  • Untuk menghubungi penulis, kunjungi situs berikut : Nyamuk PERS

Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya


 

Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

iREPORTER TOP 10 NEWS
Most Viewed Editors' Pick Most Comments

TRENDING ON MERDEKA.COM
LATEST UPDATE
  • Ahmad Dhani siap buat kementrian tandingan
  • Kasus pelecehan, dua guru JIS segera disidang
  • Kecewa Dengan Kabinet Jokowi, Dhani Buat Kementrian Tandingan
  • Sulit untuk hamil? Mulailah berdiet
  • Drama Rain - Krystal turun rating, siapa tempati posisi #1?
  • Pekerjakan 3 WNA tanpa dokumen, PT HM Sampoerna dipolisikan
  • Cantiknya Nadine Kaiser, putri Menteri Susi
  • Usai baca LPJ, SDA dipeluki kader PPP, matanya berkaca-kaca
  • Sungai meluap, 2.824 rumah di Solok terendam banjir
  • Ahok bakal sikat mafia daging sapi di Jakarta
  • SHOW MORE