Merdeka.com tersedia di Google Play

Menjelajah eksotika Cologne

Keindahan Sungai Rhein yang membius mata

Reporter : Destriyana | Sabtu, 14 September 2013 11:09


Keindahan Sungai Rhein yang membius mata
Sungai Rhein dan Cologne. ©2013 Merdeka.com/Destriyana

Merdeka.com - Baca cerita sebelumnya:

Pesona Katedral Cologne di pinggir Sungai Rhein

Mengikat janji setia di gembok cinta

Setelah puas melihat koleksi seni dan benda-benda sejarah di Koelnisches Stadtmuseum (Museum Kota Cologne), saya bersama rombongan kembali ke titik awal pemberangkatan, Katedral Cologne. Pemandu saya, Peter, mengajak kami berkeliling dan menikmati keindahan Sungai Rhein yang mengalir di sepanjang Kota Cologne.

Sembari melihat pemandangan di sepanjang aliran sungai, Peter menjelaskan kisah tentang daerah-daerah di sekitaran Rhein, yang dahulu sempat terendam banjir saat sungai meluap. Meski dampaknya cukup parah saat itu, pemerintah setempat berhasil menangani masalah lingkungan itu dengan baik.


Pemandangan Sungai Rhein di Cologne, Jerman

Pinggiran sungai kala itu dijejali turis yang asyik berjemur dan mengambil gambar di sekitaran Rhein. Kafe-kafe kecil, bar, toko buku, dan toko oleh-oleh menjamur di sepanjang pinggiran sungai. Pengunjung yang ingin sekadar melepas lelah dan dahaga bisa mampir di kafe-kafe kecil nan nyaman. Di sela-sela mengunjungi sebuah rumah yang menjadi saksi bisu dari bencana banjir bandang di Cologne saat itu, Peter mengenalkan pada kami minuman khas Cologne yang disebut Koelsch.

Kali ini, saya hanya bisa mendengarkan penjelasan Peter tentang keistimewaan minuman tradisional tersebut tanpa bisa mencicipinya. Koelsch adalah adalah bir lokal yang populer di Cologne, Jerman. Bir ini memiliki warna yang terang atau lebih tepatnya warna kuning yang cerah dan memiliki rasa yang tidak terlalu pahit. Beberapa teman non-Muslim yang berkesempatan mencicipi Koelsch, menggambarkan dekripsi yang sama seperti yang dikatakan Peter barusan.

Pemandangan Sungai Rhein di Cologne, Jerman

"Rasanya ringan dan tidak terlalu pahit," pungkas pria berkaca mata tebal yang berwajah mirip Harry Potter itu pada saya.

Karena hampir semua orang dalam rombongan adalah non-Muslim, kecuali saya, Peter memberi mereka kesempatan untuk mencicipi minuman khas Cologne itu. Untungnya, pemandu saya yang ganteng itu mau menemani saya yang berdiri sendirian di luar kafe.

"Woher kommst du?" yang artinya, "Dari mana asalmu?"

"Indonesien."

"Indonesien? Ich mag indonesische Essen sehr, aber hier gibt's nicht keine indonesische Restaurant." dalam bahasa Indonesia "Indonesia? Saya suka makanan Indonesia, tapi di sini tidak ada restoran Indonesia."

Obrolan kami terus berlanjut karena Peter terlihat sangat tertarik untuk mengenal Indonesia lebih dekat. Melihat reaksinya, saya pun merasa tambah bersemangat untuk menjelaskan tentang budaya Indonesia. Tak lama berselang, teman-teman yang telah selesai mencicipi bir menghampiri saya dan Peter. Mereka pun memuji rasa Koelsch yang luar biasa enak dan ringan.

Setelah menyusuri daerah di sekitaran Rhein, Peter memberi kesempatan pada kami untuk berpencar dan berkeliling sendiri tanpanya. Saya dan rombongan memanfaatkan kesempatan berharga itu untuk menjelajah Rhein dan daerah di sekitaran katedral. Lalu saya pun menemukan beberapa seniman jalanan yang sibuk menggambar di lantai di depan katedral, yang terlihat ditemani asisten yang memakai kostum berwarna mencolok.

Para seniman jalanan itu mengumpulkan uang dari para turis yang berlalu-lalang di sekitar katedral dengan cara menaruh kaleng di dekat mereka. Para turis yang sekiranya ingin menikmati lukisan mereka dan mengabadikan karya yang hanya akan bertahan beberapa jam itu (para seniman hanya diperbolehkan menggambar dengan kapur warna-warni) umumnya memasukkan koin 1 euro (Rp 15.183) atau lebih ke dalam kaleng.

Seniman jalanan sedang melukis dengan kapur dan ditemani asisten berkostum unik

Selain menggambar, beberapa orang yang juga mengais rejeki dari sumbangan para turis, tampak berperan sebagai patung hidup yang tampak diam selama berjam-jam. Saya yang awalnya tidak tahu kalau itu manusia sempat terhenyak ketika sebuah patung pohon di dekat saya bergerak.


Patung pohon ini teryata manusia

Petualang saya tak berhenti di situ. Kami kembali menyusuri rute lain di sepanjang Rhein yang belum kami lewati. Rute yang juga berada di pinggiran sungai ini dipenuhi oleh stan-stan pedagang, yang kalau saya lihat mirip pasar rakyat di Indonesia. Mereka menjual makanan, pernak-pernik, pakaian, tas, dan berbagai cinderamata khas Jerman.

Setelah lama berkeliling dan kaki saya mulai linu karena capek. Saya berhenti di Rheinauhafen (Pelabuhan Rheinau), kawasan seluas 15,4 hektar yang merupakan proyek regenerasi perkotaan di Cologne, Jerman, yang terletak di sepanjang Sungai Rhein antara Suedbruecke dan Severinsbruecke, tepat di sebelah selatan kota tua itu.

[des]

KUMPULAN BERITA
# Travel Journal

Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya


JANGAN LEWATKAN BERITA FOLLOW MERDEKA.COM
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Travel Journal, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Travel Journal.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup






Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top

Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER TOP 10 NEWS
LATEST UPDATE
  • Ajak warga bergembira, Risma arak Piala EBA keliling Surabaya
  • Menikmati gajah Sumatera dan kuda poni di parade satwa Ragunan
  • Dinobatkan sebagai boyband paling ngetop, bukti solid SMASH
  • Abah Anom tabib caleg stres mengaku karib Tommy Soeharto
  • Kemendag ngotot tak sekongkol dengan kartel bawang putih
  • Polisi jaga ketat gereja yang didekatnya ditemukan bahan peledak
  • Jemaat gereja di Amerika bikin gambar besar Yesus dari kapur
  • Bappilu PPP sebut hasil Rapimnas Kubu Romi bodong
  • Pramono Edhie sebut koalisi Demokrat bukan bagi-bagi kekuasaan
  • Pemilu legislatif juga buat istri dan saudara caleg ikutan stres
  • SHOW MORE