Gunung Kelud dan ritual suci larung sesaji

Reporter : Destriyana | Sabtu, 15 Februari 2014 06:05




Gunung Kelud dan ritual suci larung sesaji
Larung sesaji di Gunung Kelud. ©2014 Merdeka.com/Dimas Andhika Pramayuga

Merdeka.com - Terlepas dari bencana meletusnya gunung yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang ini, terdapat sebuah ritual adat yang selalu dilakukan di kawah Gunung Kelud yaitu Larung Sesaji. Upacara adat yang diadakan setiap bulan suro ini biasa digelar di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri.

ddd

Photo by Dimas Andhika Pramayuga

Menurut cerita masyarakat setempat, larung sesaji dimaksudkan untuk menolak bala sumpah Lembu Suro yang ditipu Dewi Kilisuci. Namun bagi umat Hindu sendiri, ritual suci ini diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi, dan juga bentuk rasa hormat pada penguasa Gunung Kelud.

fff

Photo by Dimas Andhika Pramayuga

Upacara adat ini didatangi oleh berbagai kalangan masyarakat, khususnya para penganut Hindu dari Bali, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang. Dimulai pada pukul 10.00 WIB dan berakhir pada pukul 13.00, ini merupakan salah satu tradisi budaya yang menyedot perhatian banyak orang yang tinggal di sekitar Kediri dan juga luar Kediri.

ddd

Photo by Dimas Andhika Pramayuga

Awalnya, acara larung sesaji diadakan di kawah Gunung Kelud, namun karena lokasi kawah itu sekarang sudah menjadi batu, yang kini disebut anak Gunung Kelud, ritual ini hanya diselenggarakan di tepian kawah.

ddd

Photo by Dimas Andhika Pramayuga

Sesaji yang dibawa saat ritual

Ada beragam sesaji yang dibawa dalam ritual suci ini, mulai dari nasi, sayuran, lauk pauk, dan buah-buahan. Dalam ritual larung sesaji, masyarakat setempat biasanya membawa dua jenis tumpeng, yakni tumpeng nasi putih dan kuning. Tumpeng itu dilengkapi dengan aneka lauk-pauk, seperti telor, tahu, tempe, urap, parutan sambal kelapa dan masih banyak lagi. Menariknya, semua sesaji itu dihias dan ditata sedemikian rupa sehingga tampak cantik.

Semua makanan yang dibawa oleh warga kemudian dikumpulkan di tengah. Mereka duduk mengelilinginya sembari mendengarkan pemangku adat membacakan doa. Setelah selesai didoakan, mereka akan berbondong-bondong memperebutkan sesaji berupa makanan tradisional, hasil bumi, sayur-sayuran dan buah-buahan.

Baca juga:
Khawatir rusak Candi Borobudur, abu Gunung Kelud diteliti
Malam ini pengungsi Kelud terus menjauh sampai radius 20 Km
Gunung Kelud masih awas, 26 ribu warga Blitar kembali ke rumah
Gunung Kelud meletus, 576 penerbangan dibatalkan
Kelud meletus, 18 warga Ngantang Malang dilaporkan hilang
21 Wilayah di Jateng tertutup abu erupsi Gunung Kelud

[des]


JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya







Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top


Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER
TOP 10 NEWS
Most Viewed Editors' Pick Most Comments

TRENDING ON MERDEKA.COM

LATEST UPDATE
  • Istri hendak Salat Id, suami tewas gantung diri
  • Agung Laksono: DPP Golkar sudah layak dievaluasi
  • Mau tahu sayur banci khas lebaran? yuk tanya dwi sasono
  • Genset AC di acara open house SBY meledak
  • Usai bertemu SBY, Prabowo silahturahmi ke Cendana
  • Sepanjang Kalimalang macet total, kendaraan nyaris tak bergerak
  • 5 Dam ini menjadi PLTA terbesar dan tercanggih di dunia
  • Boko Haram culik istri wakil PM Kamerun
  • Narapidana teroris dan koruptor masih dapat remisi
  • Lebaran, saipul jamiell selalu ingat mendiang virginia
  • SHOW MORE