Merdeka.com tersedia di Google Play


Di Jepang, bule dibayar untuk jadi pendeta pernikahan palsu

Reporter : Rizqi Adnamazida | Rabu, 17 April 2013 16:17


Di Jepang, bule dibayar untuk jadi pendeta pernikahan palsu
Pendeta pernikahan palsu. ©Asian Offbeat

Merdeka.com - Warga Jepang dulunya mengadakan pernikahan ala Shinto tradisional. Namun karena pengaruh pernikahan Kristen, banyak pasangan Jepang yang rela membayar bule atau orang asing untuk jadi pendeta palsu di pernikahannya.

Warga Kristen memang hanya berjumlah 1,4 persen dari total 127 juta penduduk di Jepang. Namun White Wedding budaya Barat hampir dilakukan tiga perempat dari semua upacara pernikahan di Jepang. Ini berarti banyak sekali pendeta yang dibutuhkan untuk melangsungkan pernikahan.

Permintaan itu pun memunculkan layanan pendeta pernikahan palsu. Syaratnya cukup lucu, seorang laki-laki bule atau memiliki wajah yang mirip bule, dapat berbicara sedikit bahasa Jepang, dan mau melakukan upacara pernikahan selama 20 menit.

Kisah cinta Jepang dengan pernikahan Kristen diyakini telah dimulai sejak tahun 1980. Waktu itu, pernikahan Pangeran Charles dan Lady Diana yang ditayangkan di televisi diduga memicu warga Jepang untuk melakukan hal serupa.

Uniknya, bule yang dibayar untuk jadi pendeta pernikahan palsu tidak perlu beragama Kristen. Yang penting hanyalah tata cara dan gaya bicara yang menyerupai pendeta pernikahan ala budaya Barat yang sesungguhnya.

Sayangnya praktik menikah ala budaya Barat dengan menggunakan jasa pendeta palsu cukup meresahkan para pendeta yang asli.

"Ini adalah masalah besar. Mereka palsu dan memberi reputasi yang buruk pada kami. Lagipula pernikahan itu penting dan harus dilakukan dengan benar, sementara pasangan yang menggunakan pendeta palsu tidak bisa mendapatkan esensi dari sebuah pernikahan," keluh salah satu pendeta, seperti yang dikutip dari OddityCentral.

Pendeta asli tersebut juga pernah mendengar bahwa ada pasangan yang rela membayar staf hotel untuk dijadikan pendeta pernikahan palsu karena tak bisa menemukan yang asli.

Sebenarnya selain di Jepang, mempekerjakan bule atau orang asing memang cukup populer di Asia. Misalnya China yang membayar orang kulit putih untuk mengaku sebagai mitra kerja, tujuannya adalah agar membuat mereka terlihat lebih bonafid karena memiliki mitra bertaraf internasional.

Baca juga:
Ingin tetap fit di kantor selama hamil? Ini rahasianya
Pertengkaran wanita berdampak paling buruk di tempat kerja
Wanita masih diragukan untuk jadi pemimpin?
5 Aturan ketenagakerjaan yang wajib diketahui wanita
Karyawan wanita rentan saling jegal dalam pekerjaan?

[riz]

KUMPULAN BERITA
# Jepang# Pernikahan

Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya


JANGAN LEWATKAN BERITA FOLLOW MERDEKA.COM
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Jepang, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Jepang.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup






Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top

Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER TOP 10 NEWS
LATEST UPDATE
  • Romi ngaku tak diundang SDA saat deklarasi koalisi PPP-Gerindra
  • Kisruh PPP, Emron sebut Djan Faridz berperan besar pengaruhi SDA
  • 'Petinggi partai Islam abaikan keinginan umat untuk bersatu'
  • Rapat pengurus harian PPP beri sanksi ke SDA
  • Romi: Dukungan pada Prabowo batal demi hukum
  • Panwas Kabupaten Blitar keluarkan rekomendasi pemilu ulang
  • Dukung Prabowo, PPP harus lepas simbol Islam
  • Ruhut: Di TPS-TPS Medan aku paling tinggi
  • Rouhani: Kami inginkan perdamaian dan stabilitas dunia
  • Tolak ubah suara caleg, rumah kades dibakar paman
  • SHOW MORE