Maestro Ludruk yang Terlupakan

    Demi jaga eksistensi, ludruk rela kompromi

    Reporter : Kun Sila Ananda | Sabtu, 20 Oktober 2012 14:11

    Demi jaga eksistensi, ludruk rela kompromi
    Pak Yono. ©2012 Merdeka.com

    Merdeka.com - Karena ludruk semakin tak mendapat tempat di hati anak muda zaman sekarang, para seniman ludruk harus memutar otak dan melakukan segala cara agar eksistensi ludruk tetap terjaga.

    Seperti yang dilakukan oleh seniman ludruk asal Malang, Suyono. Dia mengaku telah melakukan banyak kompromi dalam berkreasi, demi membuat ludruk tetap eksis.

    Bergabung dengan seni teater

    Dari kesenian ludruk, Suyono pernah melebarkan sayap dan belajar seni teater mulai tahun 1979. Bergabung dengan teater tak berarti Suyono melupakan ludruk. Hal ini justru dilakukannya untuk mengembangkan seni ludruk.

    "Niat awalnya, kami ini ingin menimba ilmu dari orang-orang pinter, yang sekolah formal," tuturnya pada merdeka.com, Senin (15/10).

    Menurutnya teater banyak memberikan pelajaran yang bisa digunakan saat manggung membawakan ludruk.

    "Ya kami belajar vokal, artikulasi, dan jangan sampai bertabrakan dengan pemain lain," paparnya mengenai hal-hal yang dipelajari dari seni teater.

    Meski begitu, Suyono tetap menganggap bahwa ludruk memiliki kelebihan tersendiri, yaitu pada improvisasi.

    "Kekuatan pemain ludruk itu ada pada improvisasi. Ketika kami bermain, banyak (orang teater) yang memuji improvisasi kami," jelasnya.

    Suyono berharap dengan menggabungkan kelebihan ludruk dengan pelajaran dari teater, ludruk akan semakin maju.

    Dari semalam menjadi dua jam

    Tak hanya kompromi masalah penampilan, jumlah jam tayang ludruk pun mengalami pemangkasan. Dulunya ludruk bisa memakan waktu semalam suntuk, mulai pukul 21.00 - 04.00 WIB. Namun sekarang durasi ludruk hanya sekitar dua jam saja. Hal ini juga diakui oleh salah seorang seniman ludruk dan pelawak, Kartolo.

    "Kalau sekarang kan cepat, dua jam saja selesai. Kalau dulu ya mulai jam sembilan (malam) sampai jam empat pagi, seperti wayangan," ungkapnya pada merdeka.com, Satu (13/10).

    Hal ini juga diakui oleh Suyono. Tampaknya, kurangnya peminat membuat ludruk harus mulai menyesuaikan diri dengan keinginan masyarakat.

    Dengan menyempitnya waktu, alhasil suguhan ludruk pun menjadi berbeda dan berkurang.

    "Ada bagian-bagian yang dihilangkan. Dulu sebelum lawak ada bermacam-macam tarian, mulai dari remo, tari ular, dan tandak. Sekarang hanya remo saja," jelas Suyono mengenai perubahan ludruk ini. "apalagi tandak itu harus dibawakan orang yang benar-benar bisa, tidak sembarang orang."

    Kompromi penghasilan

    Seolah tak cukup dengan hanya berkompromi masalah penyajian dan durasi waktu, para seniman ludruk masih harus kompromi dengan penghasilan.

    Dia juga menjelaskan bahwa untuk menyewa ludruk biasanya dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Mulai dari Rp 8 jutaan hingga di atas Rp 10 juta. Oleh karena itu, demi menjaga ludruk agar tetap hidup dan tidak dilupakan, kelompok ludruk Suyono tak menetapkan bayaran ketika dipanggil.

    "Mereka ada budget berapa, deal, kita tampil," jelasnya.

    Hal ini dilakukannya semata-mata agar orang-orang tak surut saat ingin mengundang ludruk. Jika biaya yang ditetapkan tinggi, Suyono khawatir tak akan ada lagi yang mau menonton ludruk, dan kesenian ini perlahan akan dilupakan.

    Berbagai bentuk kompromi udah dilakukan oleh seniman ludruk untuk mengembangkan tradisional ini. Mulai dari menggabungkannya dengan seni teater hingga memangkas durasi tayang. Namun kesemuanya tampak belum efektif untuk membuat Ludruk kembali bangkit.

    Para seniman juga masih harus tetap berhadapan dengan realita yang ada. Di satu sisi mereka ingin menjaga kelestarian seni budaya ini. Di sisi lain mereka harus menghidupi keluarga.

    [kun]

    Komentar Anda


    Suka artikel ini ?
    Kunjungi portal hao123 untuk akses internet aman dan nyaman


    JANGAN LEWATKAN BERITA
    Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

    Let's be smart, read the news in a new way.
    Tutup
    Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
    Kirim ke

    Free Content

    • URL Blog

    • Contoh : merdeka.wordpress.com

    • Email

    • Password


    saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya





    BE SMART, READ MORE

    Today #mTAG
    LATEST UPDATE
  • Jika jadi Gubernur Jakarta, ini rencana Dhani atasi kemacetan
  • Begeng culik lalu bunuh bocah J karena butuh biaya nikah Rp 250 juta
  • Periksa kejiwaan Jessica, penyidik Polda Metro dinilai buat lelucon
  • Honda Odyssey Hybrid Meluncur, Harganya Mulai Rp 440 Juta
  • Rayakan ultah member Running Man, Yoo Jae Suk jadi tumbal
  • KKP bakal beri bantuan kapal untuk nelayan di Indonesia tahun ini
  • Banjir bandang terjang puluhan rumah di Karangasem Bali
  • Libur hari raya Galungan, lokasi wisata di Bali dipadati pengunjung
  • Besok, Menteri Susi akan tenggelamkan kapal asing asal Jepang
  • Obama minta Jokowi pimpin diskusi soal pemberantasan terorisme
  • SHOW MORE