Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian (Deptan), Tjuk Eko Hari Basuki, di Jakarta, Kamis (23/10), mengatakan, sampai saat ini konsumsi beras per kapita masih sangat tinggi yakni sekitar 139,15/kg per tahun yang terdiri dari konsumsi rumah tangga sebesar 105,48 kg/kapita/tahun dan industri pengolahan sebesar 33 kg/kapita/tahun.
"Laju penurunan konsumsi beras per kapita sangat lamban sehingga upaya diversifikasi pangan yang telah dilaksanakan selama ini belum membuahkan hasil," katanya dalam seminar Peran Ekonomi Bioteknologi dalam Pertanian Indonesia di Gedung Deptan.
Tjuk mengungkapkan, berdasarkan indeks Pola Pangan Harapan (PPH) pada 2007 konsumsi masyarakat Indonesia terhadap padi-padian mencapai 62,2% sedangkan menurut PPH yang ideal 50%.
Selain beras, konsumsi pangan yang melebihi dari PPH ideal yakni minyak dan lemak yakni 10,1% dari seharusnya 10%, sedangkan konsumsi masyarakat Indonesia untuk sayur dan buah-buahan hanya 5% atau lebih rendah dari yang direkomendasikan sebesar 6%.
Begitu juga konsumsi terhadap pangan hewani hanya 7,8% dari seharusnya 12%, umbi-umbian berdasarkan hanya 3,1% padahal berdasarkan PPH ideal seharusnya 6%, kacang-kacangan dari seharusnya 5% namun berdasarkan PPH 2007 hanya 3,6%.
Sedangkan konsumsi gula dan dan buah/biji berminyak berdasarkan PPH 2007 masing-masing 4,8% dan 2,3% di bawah PPH ideal yang mana untuk gula 6% dan buah/biji berminyak 3%.
Menurut Tjuk Eko, belum idealnya kualitas konsumsi pangan masyarakat Indonesia tersebut disebabkan rendahnya pengetahuan dan pemahaman terhadap pangan yang beragam dan bergizi.
Selain itu, masih besarnya jumlah penduduk miskin dan pengangguran dengan kemampuan akses pangan rendah, masih terbatasnya penelitian dan pemanfaatan teknologi pengolahan pangan lokal. (kpl/rif)