Merdeka.com tersedia di Google Play


Harga Pupuk Subsidi Tetap, Non Subsidi Naik 20%

Sumber : | Minggu, 13 Maret 2005 20:29


Harga Pupuk Subsidi Tetap, Non Subsidi Naik 20%
Kapanlagi.com

Merdeka.com - Kapanlagi.com - Produsen pupuk nasional sepakat untuk tetap mempertahankan harga pupuk urea subsidi kepada petani sebesar Rp1.050 per kilogram, namun menaikkan harga pupuk non subsidi untuk perkebunan dan industri sekitar 20%.

Dirut PT Pupuk Sriwijaya yang merupakan induk BUMN pupuk nasional, Dadang H Kodri, di Jakarta, Minggu, mengatakan kenaikan pupuk non subsidi dilakukan seiring dengan peningkatan biaya produksi sekitar 6%-8% akibat kenaikan BBM.

"Kendati biaya produksi meningkat, harga pupuk untuk sektor pangan yang disubsidi tetap Rp1.050 per kilogram. Itu sudah komitmen produsen pupuk kepada pemerintah," ujarnya. Sedangkan, pupuk non subsidi, berdasarkan rencana kerja perusahaan (RKP) paling rendah Rp1.350 per kilogram dan diperkirakan dipasaran bisa lebih besar dari jumlah tersebut.

"Kenaikan harga pupuk non subsidi suatu keharusan karena kenaikan biaya produksi. Di samping itu juga untuk subsidi silang dengan harga pupuk sektor pangan yang tetap Rp1.050 per kilogram," katanya.

Direktur Pemasaran Pusri, Bowo Kuntohadi, mengatakan, harga pupuk non subsidi juga disesuaikan dengan perkembangan harga pupuk di pasar internasional yang saat ini berkisar antara US$220-US$230 per ton.

"Harga pupuk non subsidi untuk industri dan perkebunan biasanya ditetapkan sekitar 90% dari harga internasional untuk menghindari merembesnya pupuk keluar negeri, di samping mewaspadai serangan pupuk impor," katanya.

Menanggapi pertanyaan, apakah BUMN pupuk tidak merugi akibat 60% pupuk yang diproduksinya tidak boleh dinaikkan karena komitmen dengan pemerintah, Dadang mengatakan, hal itu bisa diatasi dengan berbagai cara.

"Banyak hasil sampingan dari industri pupuk yang bisa mengatasinya. Selain dari harga jual pupuk non subsidi yang dinaikkan, kami juga masih bisa menjual amoniak dan tenaga kerja yang handal," kata Dadang.

Pupuk non subsidi untuk perkebunan dan industri sendiri masing-masing sekitar sembilan persen atau 607 ribu ton untuk perkebunan dan 568 ribu ton untuk industri, dari rencana produksi nasional tahun 2005 sekitar 6,6 juta ton.

Untuk mengurangi beban biaya produksi akibat kenaikan BBM dan harga pupuk subsidi tidak naik, Dadang mengatakan, BUMN pupuk bisa melakukan ekspor dari kelebihan produksi yang diperkirakan bisa mencapai sekitar 1,1 juta ton tahun 2005.

Harga Tetap Dadang mengatakan, untuk menjaga harga pupuk urea subsidi tetap Rp1.050 per kilogram di tingkat petani, maka para produsen mengurangi harga pupuk yang dijual ke tingkat distributor sesuai dengan kenaikan biaya transportasi.

Ia mencontohkan untuk Jawa misalnya, harga pupuk dari produsen ke distributor bisa sekitar Rp970 per kilogram agar distributor tetap bisa menjual harga pupuk subsidi ke gudang pengecer sebesar Rp1020 per kilogram.

"Dengan demikian pengecer harus tetap menjual pupuk urea kepada petani dengan HET (harga eceran tertinggi) sebesar Rp1.050 per kilogram. Untuk mematuhi ketentuan tersebut, kami telah mengikat kontrak dengan distributor dan pengecer agar memenuhi ketentuan itu, bila tidak maka bisa kena tindak pidana," katanya. (*/dar)


Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top

Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER TOP 10 NEWS
LATEST UPDATE
  • Aceng Fikri: Ini suara rakyat...masyarakat lebih dewasa
  • Demokrat ngaku jarang disumbang, dana kampanye terpakai Rp 307 M
  • Rumah keluarga Hadi Poernomo di Jakbar dijadikan indekos
  • Pemilik pabrik air zam-zam palsu di Semarang dituntut 3 tahun
  • Dana kampanye Golkar Rp 402 M, kedua terbesar setelah Gerindra
  • 7 Manfaat mengejutkan dari mendengarkan musik
  • PBB dan Gerindra tolak tanda tangan hasil rekapitulasi Jabar
  • Kecewa, Cameron Diaz Merasa Dikhianati
  • 5 Dari 28 pekerja outsourcing JIS kembali jalani uji lab
  • 9,5 Juta warga Jawa Barat golput di Pileg 2014
  • SHOW MORE