Merdeka.com tersedia di Google Play



Paha Ayam Asal AS Tak Layak Konsumsi

Sumber : | Kamis, 6 Oktober 2005 17:09


Paha Ayam Asal AS Tak Layak Konsumsi
Kapanlagi.com

Merdeka.com - Kapanlagi.com - Pemerhati masalah pertanian, H Imam Churmen, berpendapat, paha dan sayap ayam asal Amerika Serikat tidak layak dikonsumsi karena di negara asalnya merupakan limbah.

"Rakyat AS tak mau mengkonsumsi paha dan sayap ayam karena mengandung kolesterol," kata Imam Churmen dalam diskusi terbuka mencegah masuknya impor paha dan sayap ayam dari AS yang diselenggarakan Petani Centre IPB di kampus IPB, Bogor, Kamis.

Ia juga berpendapat, masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam meragukan kehalalan paha dan sayap ayam asal AS itu karena cara pemotongannya diragukan.

Mantan Wakil Ketua Komisi III DPR (dulu membidangi pertanian) ini menandaskan, apabila impor paha dan sayap ayam dari AS itu dikabulkan pemerintah, berarti pemerintah tak menunjukkan kepeduliannya terhadap nasib peternak yang sedang terpuruk. Padahal, peternakan ayam di dalam negeri belakangan terpuruk dan belum bangkit akibat wabah flu burung.

Impor paha dan sayap ayam juga dinilai hanya menguntungkan segelintir kelompok orang saja. "Oleh karena itu saya mengimbau kepada pengusaha yang berminat mengimpor paha dan sayap ayam dari AS itu untuk membatalkan niatnya. Sebaiknya, dana yang dimiliki digunakan untuk membantu peternak dalam negeri agar mampu bangkit kembali menekuni bidang usahanya."

Ia juga menegaskan, `apabila pemerintah mengizinkan impor paha dan sayap ayam dari AS tersebut, saya akan menyatakan menolak kebijakan itu." Sangat Prospektif

Imam juga mengatakan, meskipun agribisnis ayam ras sempat mengalami guncangan akibat krisis ekonomi, ke depan peluang pengembangannya sangat prospektif. Faktor yang mendukungnya, jumlah penduduk sekitar 210 juta jiwa, konsumsi daging dan telur ayam per kapita penduduk tergolong rendah, yakni 3,02 kg, atau sedikit di atas Vietnam dengan konsumsi per kapita 2,1 kg per tahun.

Karena bahan pangan asal unggas dikatergorikan dalam sembilan bahan pokok (sembako), maka komoditas daging dan telur ayam sudah menjadi target kebijakan pangan nasional, yang perlu diwujudkan ketersediaannya dalam dimensi jumlah, kualitas, ruang, waktu dan keterjangkuannya.

Imam mencatat, akibat krisis multidimensi sejak pertengahan 1997, agribisnis ayam ras Indonesia mengalami penurunan drastis. Menurut data Ditjen Peternakan, produksi DOC final stock broiler 1998 merosot sekitar 50 persen dari produksi 1997.

Demikian juga produksi DOC final stock layer turun 35%. Akibatnya, pada 1998 produksi daging broiler turun sekitar 20%. Sementara itu akibat merosotnya pendapatan nasional dan daya beli masyarakat, konsumsi daging broiler turun sekitar 18% pada tahun 1998 itu. (*/rit)


KUMPULAN BERITA
# Terorisme

Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya


JANGAN LEWATKAN BERITA FOLLOW MERDEKA.COM
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Terorisme, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Terorisme.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup






Komentar Anda


Smart people share this
Back to the top

Today #mTAG SPOTLIGHT iREPORTER TOP 10 NEWS
LATEST UPDATE
  • KPU Kota Tangerang gelar pleno rekapitulasi suara
  • Perempuan tua tanpa identitas tewas tertabrak kereta di Bekasi
  • Politikus Golkar sebut Ical aktif lobi ke partai selain Hanura
  • Cameron Diaz, Leslie Mann & Kate Upton Pernah Diselingkuhi!
  • Akhir April 2014, mainan tanpa SNI dilarang beredar
  • SDA: Rapimnas tak bisa gantikan Ketum PPP
  • Masyarakat apatis karena parpol cuma sibuk bagi-bagi kursi
  • Diperintah Tuhan, Murtada mundur dari bursa calon presiden Mesir
  • PDIP pastikan sudah pegang tiga nama cawapres Jokowi
  • Gedung Putih tolak komentari petisi deportasi Bieber
  • SHOW MORE