Suriah rekrut tentara wanita untuk periksa perempuan berjilbab

Reporter : Pandasurya Wijaya | Senin, 21 Januari 2013 11:05

Suriah rekrut tentara wanita untuk periksa perempuan berjilbab
Tentara Perempuan Suriah. ©alarabiya.net

Merdeka.com - Pemerintah Suriah mulai merekrut tentara wanita untuk memeriksa para perempuan berjilbab.


Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Senin (21/1), di Kota Homs tempat terjadinya konflik bersenjata dengan pasukan pemberontak, pasukan tentara perempuan rezim Assad tampak menyandang senapan, di lokasi pengecekan.

"Kehadiran tentara perempuan itu mengganggu," kata seorang penduduk Homs bernama Rasha. "Mereka seperti pemangsa yang memperlakukan perempuan layaknya budak atau orang Yahudi di tempat tawanan."

Rasha mengungkapkan salah seorang tentara wanita itu bertindak kasar dengan mendorong seorang perempuan tua di daerah Dawar al-Muaslat di tengah Kota Homs. Tentara itu juga memaksa perempuan tua itu melepas jilbabnya.

Peristiwa itu, kata Rasha, mengingatkan dia pada zaman rezim Presiden Hafez al-Assad berkuasa. Kakak Hafez, Rifaat, ketika itu menjadi pemimpin militer. Dia merekrut ratusan tentara perempuan untuk menjalankan sejumlah operasi seperti membunuh, menyiksa, dan mengintimidasi perempuan berjilbab.

Kejadian paling kejam adalah ketika terjadi peristiwa pembantaian Hama. Rezim Suriah ketika itu membantai 40 ribu orang dalam serangan udara selama dua pekan. Kebanyakan menjadi korban adalah warga sipil.

Seorang perempuan lain mengaku ketika dia kecil dia selalu takut berpapasan dengan tentara perempuan lantaran khawatir disiksa atau dianiaya.

Kaum hawa yang menjadi oposisi rezim Assad atau yang pernah menjadi korban kekejaman lebih memilih kabur ke Turki dan berlatih menggunakan senjata untuk balas dendam.

Seorang pejabat perempuan pembelot, Zubaida al-Meeki, kabur ke negara muslim terdekat untuk melatih kaum perempuan yang akhirnya bergabung dengan pasukan pemberontak.

[fas]

Rekomendasi Pilihan

KUMPULAN BERITA
# Suriah# Konflik Suriah

Komentar Anda



BE SMART, READ MORE