Setiap tempat Karbala, saban hari adalah Asyura
Merdeka.com - Hasil pemikiran Ali Syari'ati banyak dipengaruhi ide-ide gerakan dunia ketiga pada masa itu. Berbagai teori populer tentang penindasan dan perlawanan kelas, kesetaraan, kesejahteraan, antifeodalisme, dan lainnya menjadi dasar prinsip perjuangan dia.
Ali Syari'ati memadukan berbagai prinsip keilmuan Barat dengan landasan reformasi Islam, yakni kembali ke Al-Qur'an dan Hadits. Hal itu didasari kenyataan rakyat Iran menderita dalam kemiskinan di bawah kepemimpinan Shah Reza Pahlevi. Padahal negara itu kaya minyak dan seharusnya bisa mensejahterakan seluruh negeri.
Syari'ati mencoba menautkan berbagai ide perubahan masyarakat dalam simbol-simbol budaya Syiah agar setiap orang bisa memahami artinya. Dia berpendapat kaum Syiah tidak harus menunggu datangnya imam ke 12 atau Imam Mahdi karena perubahan bisa diupayakan dengan usaha dan tekad.
Bahkan Ali Syari'ati menekankan pentingnya berkorban dan kalau perlu setiap orang menjadi martir bagi perjuangan yang mereka yakini. Dari hal itu muncul pernyataan, "Setiap tempat adalah Karbala, setiap hari adalah Asyura." Meski begitu, buat sebagian ulama pemikiran dia cenderung mendekat kepada ide-ide sosialis-komunis.
Syari'ati menamakan keyakinannya sebagai Syiah Merah sebagai wujud perlawanan kepada golongan Syiah Hitam, yakni seluruh ulama yang tunduk pada pemerintah. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya