Perwira Suriah ramai-ramai membelot ke Turki
Merdeka.com - Semakin banyak perwira militer Suriah membelot dari rezim Presiden Basyar al-Assad. Kemarin, para tentara selama ini bertugas di Kota Homs, basis oposisi, dikabarkan telah berada di penampungan Apaydin, lokasi para pengungsi asal Suriah di Turki.
Kantor berita Reuters melaporkan, Selasa (3/7), dalam rombongan desersi itu, terdapat seorang jenderal divisi artileri, tujuh perwira, dan 77 prajurit pelbagai tingkat. Para tentara ini sekaligus membawa anak istri mereka, sehingga total 224 orang ikut serta menyeberang ke pihak Turki.
Sepanjang bulan lalu, satu per satu muncul kabar tentara Suriah membelot. Awal bulan, pilot jet, Kolonel Hassan Hamada, ditugaskan menggempur kota Homs mendadak kabur dan mendarat di Yordania. Aksi itu memantik desersi besar-besaran. Tidak lama dua pilot lain berpangkat kolonel membawa anak istri mereka menyusul ke lokasi pelarian Hamada.
Stasiun televisi CNN berbahasa Turki mencatat bulan lalu seorang jenderal, dua kolonel, tiga mayor, seorang letnan, dan 33 prajurit sudah melintasi perbatasan menuju Turki. Mereka adalah bagian dari pasukan khusus di bawah kendali langsung Presiden Assad.
Tindakan perwira ini diperkirakan semakin melemahkan posisi Assad. Selain kehilangan dukungan beberapa gelintir petinggi militer, dia juga sedang ditekan secara politis oleh kekuatan utama dunia.
Para pejabat lima negara anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amerika, Rusia, China, Inggris dan Perancis melakukan perundingan tertutup di Jenewa, Sabtu pekan lalu. Perwakilan dunia Arab yaitu Kuwait, Turki, Qatar, dan Irak ikut memantau.
Hasil pertemuan itu disampaikan utusan internasional, Kofi Annan, mengusulkan pembentukan pemerintah peralihan Suriah, yang melibatkan para pengikut Presiden Basyar al-Assad dan anggota oposisi, dalam usaha mengakhiri perang di negara itu.
Satu-satunya pendukung rezim Assad di dunia internasional tinggal Rusia. Kremlin pekan lalu menegaskan setiap transisi politik di Suriah harus dibebaskan dari peran dan kekuatan asing.
Perang saudara di Suriah telah memakan banyak korban selama setahun terakhir. Pihak pemantau hak asasi independen dan Reuters mencatat lebih dari 15 ribu warga tewas akibat pertempuran pemerintah lawan oposisi. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya