Pengakuan Mengejutkan Mantan Tentara Israel Soal Konflik dengan Palestina
Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menawarkan konsep perdamaian dalam mengatasi konflik Israel-Palestina. Konsep itu dinamakan Kesepakatan Abad Ini atau Deal of the Century. Trump menjanjikan dengan usulan ini akan mengakhiri konflik panjang Israel dan Palestina.
Namun usulan Trump ini dinilai tak membawa harapan akan terwujudnya perdamaian. Demikian analisis dari Yehuda Saul yang diterbitkan di laman The Guardian Mei lalu. Saul adalah prajurit tempur dan komandan infanteri di Pasukan Pertahanan Israel selama intifada kedua, dan merupakan anggota pendiri Breaking the Silence, organisasi veteran Israel yang bertujuan untuk mengakhiri pendudukan Israel.
Saul memandang dengan visi yang dibawa pemerintahan Trump justru dapat memperkuat pendudukan, sebagaimana ditunjukkan oleh utusan perdamaian Timur Tengah Trump, Jason Greenblatt dalam pernyataannya baru-baru ini.
Greenblatt mencuitkan kembali unggahan Uri Karzen, pemimpin komunitas penduduk Israel di Hebron, Tepi Barat. Dalam unggahan foto itu menunjukkan kegiatan buka puasa di Hebron yang dihadiri penduduk Israel dan beberapa warga Palestina.
"Kami meletakkan dasar perdamaian," tulis Karzen. Namun Greenblatt justru mengecam kegiatan tersebut.
"Kerja keras untuk perdamaian memang! Contoh luar biasa dari apa yang mungkin terjadi," cuitnya, dilansir dari The Guardian, Rabu (3/7).
Saul mengatakan, dirinya sebagai mantan tentara Israel yang bertugas di Hebron, kota terbesar warga Palestina di Tepi Barat, menilai sikap tersebut bukanlah sikap dari hidup berdampingan, melainkan segregasi.
Hebron adalah rumah bagi 230 ribu warga Palestina. Namun sekitar 850 warga Israel juga tinggal di pusat kota. Saul adalah salah satu dari 650 tentara yang pernah ditempatkan secara permanen di Hebron untuk menjaga kelompok kecil pemukim Israel.
haaretz.com
Pada 1994, Baruch Goldstein, dari pemukiman Israel yang berdekatan dengan Kiryat Arba, memasuki Makam Para Leluhur di Hebron dan menembaki orang-orang Palestina saat salat Subuh, menewaskan 29 orang dan melukai lebih dari 100 orang. Berpura-pura melindungi para pemukim dari pembalasan oleh orang-orang Palestina setelah pembantaian, tentara menutup Jalan Shuhada, jalan pusat kota, serta pasar sayuran, grosir dan daging. Penutupan semakin intensif selama intifada kedua. Pada tahun-tahun berikutnya, kebijakan Israel, termasuk penutupan jalan utama dan pasar, dan kekerasan pemukim dan tentara membuat kehidupan warga Palestina di kota itu tak tertahankan, mengubah pusat yang dulunya semarak itu menjadi kota hantu.
"Pada tahun 2001-2003 saya bertugas di patroli militer yang menemani para insinyur untuk menutup pintu rumah-rumah dan toko-toko penduduk Palestina di Jalan Shuhada, menutup jalur lalu lintas kendaraan bermotor dan pejalan kaki Palestina, atau menjadikannya “steril”, dalam bahasa Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Saya tidak bisa melupakan grafiti yang saya lihat disemprotkan di beberapa pintu: "Orang Arab ke krematorium", "Orang Arab keluar" atau "Pembalasan" di samping Bintang Daud," tulis Saul.
"Rasisme itu memanifestasikan dirinya dalam kekerasan sehari-hari: pemukim menyerang pejalan kaki atau tetangga Palestina, kadang-kadang bahkan mengirim anak-anak mereka untuk melakukan hal yang sama. Sebagai seorang prajurit, saya diperintahkan untuk tidak ikut campur. Kami di sana untuk melindungi para pemukim, saya diberitahu, bukan (untuk melindungi) orang-orang Palestina," lanjutnya.
Selama bertugas di Hebron, Saul menceritakan pihaknya juga diperintahkan untuk mengintimidasi warga Palestina. Dalam misinya, para tentara akan memasuki rumah-rumah warga Palestina pada tengah malam, membangunkan mereka untuk diintimidasi atau mengacak toko-toko milik warga Palestina pada siang hari.
"Patroli ini mungkin adalah bagian paling rutin dari tugas saya di Hebron," ujarnya.
Setelah mengakhiri tugas militernya, Saul mengatakan tak ada yang berubah. Tentara yang ditugaskan setelahnya di wilayah itu masih melakukan hal yang sama. Setelah pensiun, Saul mendirikan Breaking the Silence, organisasi veteran Israel yang bertujuan untuk mengakhiri pendudukan Israel.
Kendati Greenblatt memanfaatkan foto buka puasa bersama warga Palestina dan pemukim Israel untuk mengklaim bahwa upaya AS berada di jalur perdamaian, hal itu menurutnya tak berarti ketika warga Palestina masih belum bebas berjalan di jalan-jalan utama di Hebron.
"Apakah ini impian Greenblatt di masa depan bagi kita? Kekerasan pemukim masih merajalela. Lebih dari 100 hambatan gerakan fisik yang dibuat oleh tentara di dalam kota membuat gerakan rutin menjadi cobaan berat bagi ribuan orang. Dua sistem hukum yang berbeda terus ada di Hebron, seperti yang berlaku di seluruh Tepi Barat - satu untuk Palestina (hukum militer) dan satu untuk pemukim (hukum sipil)," jelasnya.
"Tujuan sebenarnya dari lebih dari setengah abad pendudukan militer Israel atas Palestina lebih jelas di Hebron dibandingkan di tempat lain - untuk mencapai penaklukan Palestina dalam kenyataan yang terpisah dan tidak setara. Jika kita berada di Alabama tahun 1950-an, akankah Greenblatt mengatakan bahwa perjamuan bersama antara orang kulit putih dan kulit hitam adalah jalan menuju masa depan? Atau akankah dia mengakui bahwa cara untuk mencapai kesetaraan adalah dengan mengakhiri sistem hukum diskriminasi dan memastikan perlindungan atas persamaan hak? Hebron tak berbeda - satu-satunya solusi adalah mengakhiri pendudukan," pungkasnya.
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya