Memiliki senjata api di Amerika semudah beli kacang
Merdeka.com - Insiden penembakan massal di Bioskop Century 16, Kota Aurora, Colorado, Denver, Amerika Serikat saat pemutaran perdana film 'The Dark Knight Rises' kemarin mengundang perdebatan keras soal pengaturan senjata api. Pada tragedi yang menewaskan 12 orang dan melukai 59 lainnya, termasuk tiga warga Indonesia ini, pelaku bisa mudah menenteng dua senapan otomatis dan granat asap tanpa dicurigai polisi.
Bagi pegiat antisenjata api, Michael Shure, insiden 'Penembakan Batman' kemarin harus menjadi momentum mengubah kondisi di Amerika. Warga Negeri Paman Sam itu selama ini bisa memiliki pistol atau senapan semudah membeli kacang, seperti dilansir TYTnetwork, Sabtu (21/7).
Di Amerika, toko senjata di beberapa negara bagian, termasuk Colorado, tidak meminta pembeli senjata api mengisi formulir dan mengurus registrasi. Kebijakan ini disebut 'tidak tanya, bayar dan bawa pulang'.
Bahkan di Detroit, sebuah bank memberi hadiah langsung senapan dan peluru setelah seseorang membuka rekening. Beberapa daerah juga tidak menerapkan batasan umur. Anak usia 12 tahun pun bisa saja membeli pistol tanpa harus menyertakan izin orang tua.
Masalah makin runyam saat undang-undang nasional pelarangan menjual senapan otomatis untuk umum di seluruh negara bagian, habis masa berlakunya pada 2004. Tidak heran, tiga tahun kemudian muncul tragedi Virginia Tech ketika seorang mahasiswa stres menembak mati 32 orang.
Mudahnya warga membeli senjata api, didukung murahnya harga benda itu. Berbekal uang Rp 1,4 juta, anda bisa mendapatkan pistol kaliber 22 di Amerika. Di Indonesia sebagai perbandingan, senjata dengan spesifikasi sama berharga lebih dari Rp 20 juta. Soal peluru jangan ditanya. Waralaba supermarket seperti Wal-Mart pinggir jalan pun menjual eceran peluru tajam dengan harga grosir, rata-rata per biji tidak sampai Rp 50 ribu.
Shure menuding pabrik senjata api mempengaruhi anggota parlemen dalam menyusun undang-undang senjata api. "Tidak bisa dipungkiri, Asosiasi Senapan Nasional (NRA) bentukan pabrik senjata selalu melobi parlemen agar undang-undang mengakomodir masalah hak warga negara buat melindungi diri," ujar dia.
Kemudahan membeli senjata melalui dalih hak warga melindungi diri membuat ada 200 juta senapan dan pistol tersebar di seluruh Amerika.
Namun berdasarkan data statistik the New York Times, banyaknya senjata itu menghasilkan situasi jauh dari aman. Lebih 29 ribu warga tewas tiap tahun karena kekerasan senjata api, dan 2.825 anak-anak meninggal karena sebab yang sama.
Apakah mencari senjata tetap akan semudah beli kacang di Amerika? (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya