Mahmud Abbas perintahkan segera otopsi jasad Arafat
Merdeka.com - Presiden Otoritas Palestina saat ini, Mahmud Abbas, mengatakan tidak ada alasan menunda otopsi terhadap jasad mendiang Yasser Arafat. Dia memerintahkan segera melakukan penyelidikan lantaran hasil investigasi sembilan bulan stasiun televisi AlJazeera menyimpulkan kemungkinan Arafat wafat lantaran diracun.
Dilansir dari stasiun televisi AlJazeera, Kamis (5/7), pernyataan Abbas disampaikan oleh juru bicara kepresidenan, Nabil Abu Rudainah. Dia menambahkan Otoritas Palestina harus mengajak pakar keilmuan Arab dan internasional guna menuntaskan pengusutan itu. "Tidak ada landasan politik atau agama mendasari penyelidikan itu. Semua murni berdasarkan teori medis dan ilmu pengetahuan," kata Abu Rudeinah. Tetapi ada kecurigaan hal itu hanya salah satu taktik Abbas mendongkrak popularitas Fatah pada pemilihan umum Palestina tahun ini.
Sementara itu kepala tim perunding Palestina, Saeb Erekat, menyerukan agar komite internasional turun tangan buat mengusut penyebab kematian Arafat, seperti yang pernah dilakukan saat menyelidiki kasus pembunuhan Perdana Menteri Libanon, Rafik Hariri, tujuh tahun lalu. "Kami akan mencoba menyampaikan hal itu kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kami berharap mereka mau bekerjasama karena kami hanya mencari kebenaran," kata Erekat.
Penyelidikan terhadap jasad Arafat dibantu oleh Dr. Francois Bochud, Direktur Institut Radiofisika di Kota Lausanne, Swiss. Menurut dia jika hasil pengusutan terhadap belulang Arafat menunjukkan terkandung zat radioaktif polonium dengan kadar tinggi, maka dia bisa memastikan mantan pejuang Palestina itu tewas diracun.
Mantan pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) ini dalam kondisi sehat sebulan sebelum meninggal. Mendadak, kesehatannya langsung memburuk pada 12 Oktober 2004. Sejak saat itu, Arafat mengalami gejala diare parah, muntah berulang kali, dan berat badannya turun drastis. Dokter menyatakan dia meninggal pada 11 November 2004 dan dimakamkan di Kota Ramallah, Tepi Barat.
Gejala dialami Arafat rupanya sama persis seperti mendiang mata-mata Rusia, Alexander Litvinenko. Dia diracun polonium saat minum teh di Ibu Kota London, Inggris, dan meninggal beberapa bulan setelah pertama kali sakit enam tahun lalu.
Beberapa bulan setelah meninggal, ada banyak teori coba menjelaskan penyebab kematian Arafat. Dia sempat dicurigai mengidap HIV, leukimia, sampai kanker, tapi pihak Lausanne memastikan dugaan-dugaan itu tidak benar.
Istri mendiang, Suha Arafat, sudah meminta pihak rumah sakit militer Percy yang terakhir kali merawat suaminya memberikan contoh air kencing dan darah buat diteliti. Namun institusi kesehatan Prancis ini mengaku sudah menghancurkan sampel-sampel itu. "Saya kecewa dengan respon pihak rumah sakit (Percy). Sampel darah orang sepenting Arafat biasanya disimpan. Kesannya mereka ingin terhindar dari masalah," ujar Suha.
Satu-satunya cara membuktikkan semua dugaan itu adalah mengotopsi kembali kerangka Arafat. Masalahnya, menurut Suha, Israel kemungkinan besar tidak akan mengizinkan pengiriman jenazah dari Tepi Barat ke luar negeri. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya