Lima hari, dua kapal imigran tenggelam di Pulau Natal
Merdeka.com - Tenggelamnya kapal pengungsi kedua di Pulau Natal, perairan antara Indonesia dan Australia hari ini, membuat Perdana Menteri Australia Julia Gillard mencari jalan tengah untuk mengkaji ulang Perjanjian Malaysia.
Perjanjian ini memungkinkan para pencari suaka ke negeri Kanguru, mulus melewati perairan Malaysia dan Indonesia. Kesepakatan itu diteken tahun lalu antara Malaysia dan Australia.
Jumat pekan lalu, kapal pengungsi juga tenggelam di tempat sama. Sekitar 90 pencari suaka tewas. Kali ini, 120 orang bisa diselamatkan tapi 10 masih hilang. "Mengingat peristiwa ini dan kemarin, saya ingin mengatakan kepada parlemen. Saya ingin masalah ini berakhir," kata Gillard, seperti dilansir kantor berita Reuters, Rabu (27/6).
Gillard berencana bekerja sama dengan negara kepulauan Nauru. Negara republik terkecil sejagat ini bakal dijadikan pelabuhan terakhir para pengungsi dari Asia Tengah, Asia Selatan, dan Timur Tengah.
Nauru terletak sekitar empat ribu kilometer sebelah timur laut Kota Sydney, Australia. Luasnya 21 kilometer persegi dengan penduduk berjumlah 10 ribu orang.
Masalah pengungsi saban tahun menjadi persoalan serius untuk Australia. Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) mengatakan tahun lalu Australia menerima 11.800 permintaan suaka. Tahun ini, sekitar empat ribu orang dan 50-an perahu pengungsi terdeteksi di perairan Australia.
Para pengungsi kadang tidak memperhatikan keselamatannya. Dua kapal imigran terakhir yang tenggelam terbuat dari kayu dan penumpangnya berdesakan.
(mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya