Libya bantah sudah ekstradisi kepala intelijen era Qaddafi
Merdeka.com - Pemerintah Transisi Libya membantah telah mengekstradisi mantan Kepala Badan Intelijen Libya masa kepemimpinan mendiang Muammar Qaddafi, Abdullah al-Sanussi, dari Mauritania. Seorang sumber rahasia di Libya mengatakan hal kepada stasiun televisi Al Arabiya, Kamis (5/7).
Sebelumnya diberitakan Sanussi telah berada di Libya setelah pemerintah negara itu mencapai kesepakatan dengan Mauritania buat mengekstradisi dia.
Pada masa kepemimpinan mendiang Muammar Qaddafi, Sanussi merupakan orang kepercayaan diktator glamor itu. Dia tertangkap Maret lalu di Mauritania dan ditahan dua bulan atas tuduhan memalsukan identitas dan memasuki negara itu secara ilegal.
Di sela-sela kunjungan kenegaraan ke Mauritania Rabu lalu, Perdana Menteri Libya, Abdul Rahim al-Kaib, mengatakan bakal mendorong percepatan proses ekstradisi Sanussi dari negara itu. "Kami hanya menyampaikan amanat rakyat Libya agar Sanussi bisa dikembalikan ke negara kami dan bakal diadili dengan menjunjung tinggi rasa hormat dan kemanusiaan," kata Al-Kaib. Dia menambahkan bakal memperlakukan mantan kepala intelijen itu sebaik mungkin sebagai perwujudan wajah baru Libya.
Juni tahun lalu, Mahkamah Internasional memerintahkan penangkapan terhadap Sanussi. Dia dianggap pelaku tidak langsung dari kejahatan terhadap kemanusiaan, pembunuhan, dan penganiayaan berdasarkan alasan politik di Kota Benghazi, Libya bagian Timur.
Kota Benghazi merupakan tempat lahirnya pemberontakan melawan rezim Qaddafi pada Februari tahun lalu. Pemberontakan itu berhasil dan mengakhiri kediktatoran selama lebih dari empat dekade di negeri itu. Qaddafi pun tewas di tangan pemberontak.
Selain dituduh menginstruksikan pembantaian, Sanussi diduga terlibat dalam insiden menembak jatuh pesawat maskapai Prancis, UTA Airliner, di Nigeria pada 1989 dalam penerbangan dari Brazzavile menuju Paris. Pesawat komersial itu mengangkut 170 orang. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya