Kembalinya Dinasti Bhutto
Merdeka.com - Penerus darah biru Bhutto diperkenalkan ke hadapan publik kemarin di kompleks pemakaman keluarga, Desa Garhi Khuda Bakhsh, Provinsi Sindh, selatan Pakistan. Dia muncul bersama ayahnya, Presiden Asif Ali Zardari.
Ribuan pendukung sambil mengibarkan bendera Partai Rakyat Pakistan (PPP) - merah, hitam, dan hijau - bertepuk riuh menyambut calon pemimpin itu. Teriakan "Bhutto panjang umur!" dan Bhutto hidup lagi!" langsung bergemuruh.
"Saya ingin mengatakan kepada kalian semua, Alhamdulillah, dia telah menyelesaikan kuliahnya. Sekarang waktunya dia berlatih," kata Zardari dalam sambutan memperingati lima tahun tewasnya istri sekaligus mantan perdana menteri Pakistan Benazir Bhutto, seperti dilansir surat kabar the Washington Times, Kamis (27/12). "Dia harus belajar soal Pakistan. Dia mesti bel;ajar dari kalian dan wajib bekerja sesuai cara berpikir kalian."
Bilawal Bhutto kembali ke Pakistan tahun lalu setelah menyelesaikan kuliahnya di Christ Church, Universitas Oxford, Inggris. Dia belajar mengenai sejarah moderen,m termasuk sejarah Inggris.
Keluarga Bhutto memang memainkan peran penting dalam politik Pakistan selama 65 tahun negara itu berdiri. Kakek dari Bilawal Bhutto, Zulfikar Ali Bhutto, adalah pendiri PPP dan menjabat presiden sekaligus perdana menteri pada 1970-an. Dia tewas di tiang gantungan pada 1979 setelah kudeta militer dipimpin Jenderal Zia ul-Haq melengserkan dia dari kekuasaan.
Ibunya, Benazir Bhutto, dua kali menjabat perdana menteri pada 1980-an dan 1990-an, ihantam bom bunuh diri namun tidak pernah sampai akhir masa jabatan. Dua kabinetnya bubar diterpa akibat tudingan korupsi. Benazir mengembuskan napas terakhir akibat ditembak dan dihantam bom bunuh diri di Kota Rawalpindi, selepas berkampanye.
Setelah kematiannya, PPP kian tersohor dan menang pada pemilihan umum empat tahun lalu dan Zardari terpilih sebagai presiden. Tapi popularitas partai dan Zardari jeblok lantaran tidak bisa menangani kurangnya pasokan listrik dan kemandekan ekonomi. Mereka juga mesti menghadapi perlawanan Taliban yang telah menewaskan ribuan orang di senatero negeri.
Setelah ayahnya, giliran Bilawal Bhutto maju ke podium. Ini merupakan pidato politik pertamanya. Para penyokong tidak kuasa meluapkan perasaan mereka. Gembira bercampur haru. "Jika satu Bhutto dibunuh, seribu Bhutto bakal muncul." Pemuda 24 tahun ini juga mengecam lembaga keadilan yang belum bisa mengadili sejumlah tersangka dalam kasus pembunuhan ibunya. Bekas Presiden Pervez Musharraf juga dituding terlibat.
Menurut Rasul Bakhsh Rais, profesor ilmu politik dari the Lahore University of Management Sciences menjelaskan bukan sebuah kejutan PPP memunculkan Bilawal Bhutto untuk kembali menang pada pemilu diperkirakan Juni tahun depan.
"Ini Pakistan dan dinasti politik adalah lumrah," ujarnya. "Bilawal mungkin satu-satunya kartu pamungkas milik PPP."
Sayang, dia belum cukup umur buat maju sebagai calon perdana menteri. Sebab syarat minimal adalah 25 tahun. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya