Jika Inggris hengkang dari Uni Eropa
Merdeka.com - Tak dapat disangkal, isu akan hengkangnya Inggris dari Uni Eropa telah menimbulkan reaksi dari sejumlah kalangan. Isu itu memang bukan hal baru dan tak dapat ditutupi lagi. Terlebih dengan munculnya hasil survei bulan lalu yang menyatakan sebagian besar rakyat Inggris ingin keluar dari organisasi didirikan 20 tahun lalu itu.
Meski Inggris belum menentukan sikap akan terus bernaung di bawah keanggotaan Uni Eropa atau keluar dari organisasi itu, sejumlah kalangan telah mewanti-wanti apa yang akan terjadi jika hal itu benar-benar menjadi kenyataan.
Perdana Menteri Inggris David Cameron kemarin menyatakan dia akan menggelar referendum jika partainya, Partai Konservatif, menang dalam pemilihan umum 2015 nanti, seperti dilansir the Daily Mail, kemarin.
Langkah Cameron itu membuat gusar negara Uni Eropa lain seperti Perancis dan Jerman. Pejabat-pejabat UE juga sudah memperingatkan Cameron. Amerika Serikat pun tidak mendukung keputusan Inggris untuk keluar dari UE. Seorang pejabat senior Amerika mengatakan Washington menginginkan suara Inggris yang kuat di Eropa.
Kini, pertanyaan yang pantas diajukan adalah apa yang akan terjadi dengan Inggris jika negara itu memutuskan keluar dari Uni Eropa? Jawabannya mungkin bisa ditemukan pada suara para pengusaha Inggris sendiri.
Pengusaha Inggris dalam sebuah suratnya yang ditujukan kepada Cameron memperingatkan, jika Cameron melontarkan isu keluar dari Uni Eropa maka sektor perdagangan negara akan terancam.
Sepuluh pemimpin sektor dagang dan bisnis Inggris termasuk Sir Richard Branson, direktur perusahaan the Virgin Group dan Martin Sorrell, direktur perusahaan WPP mengirim surat ke koran Financial Times menandaskan, reformasi di Uni Eropa harus segera dilakukan, namun Inggris juga harus berhati-hati untuk tidak menuntut keluar dari organisasi ini.
Di surat tersebut dijelaskan, permohonan untuk keluar dari Uni Eropa di kondisi seperti ini akan mengancam keanggotaan Inggris di organisasi Eropa dan London akan mengalami kerugian yang tak dapat diperkirakan di sektor perdagangan.
Eksekutif lain yang menandatangani surat itu di antaranya Jan du Plessis, Ketua Penambang Rio Tinto, Kepala British Telecoms Michael Rake, dan Chris Gibson-Smith, Kepala London Stock Exchange.
Kelompok beraliran keras yaitu Partai Konservatif yang berkuasa, menyatakan Inggris tak perlu khawatir kehilangan pasarnya di Eropa.
Sedangkan kelompok lain menuntut sejumlah reformasi di Uni Eropa. Kelompok ini menuntut fokus pada laju ekonomi dan lapangan pekerjaan, reformasi bujet Uni Eropa, menekankan pasar kolektif dan perubahan undang-undang terkait persaingan ekonomi di organisasi Eropa itu.
Apakah Inggris bisa bertahan dari jeratan krisis ekonomi dan politik jika memutuskan keluar dari Uni Eropa? Waktu yang akan menjawabnya. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya