Chuck Taylor, nasib tak seindah ketenarannya
Merdeka.com -
Charles Hollis Taylor atau Chuck Taylor menjadi tokoh dibalik suksesnya penjualan sepatu basket paling laris sejagat, Converse All Star. Tepat hari ini 111 tahun lalu dia dilahirkan di Azalia, Negara Bagian Indiana, Amerika Serikat.
Dengan latar belakang Chuck Taylor sebagai pemain basket dia memahami bagaimana seharusnya sepatu basket itu dibuat. Dengan beberapa masukan kepada pabrik Converse, akhirnya mereka berhasil membuat alas kaki khusus basket terlaris sejagat itu.
Namun, meski sepatu basket itu laris bak kacang goreng, nasib Chuck Taylor malah berbanding terbalik. Selama bekerja di Converse sejak 1917, dia tidak pernah merasakan manisnya honor dari penjualan sepatu itu.
Padahal sejak pertama kali diluncurkan, dia berkeliling Amerika naik mobil merek Cadillac berwarna putih dengan bagasi penuh sepatu mempromosikan produk itu. Dia pun diketahui hanya memiliki sebuah ruangan di sebuah kompleks pergudangan di Chicago sebagai tempat tinggalnya. Hal itu diperparah lantaran Chuck terkenal boros dalam urusan fulus.
Meski begitu, karena cinta mati dengan olahraga basket, Chuck merasa semua hal itu biasa saja. Dia lebih senang hidup berpindah-pindah mengajarkan orang lain semua hal tentang basket.
Chuck memperjuangkan agar bola basket bisa menjadi salah satu cabang olahraga dipertandingkan pada pesta olahraga sejagat, Olimpiade. Usahanya berhasil saat basket mulai dipertandingkan pada Olimpiade 1936.
Meski prestasi Chuck di dunia basket tidak terlalu menonjol, pemerintah Amerika Serikat sempat menyewa dia buat menjadi konsultan olahraga para serdadu Negeri Paman Sam pada masa Perang Dunia II.
Setelah cukup lama bergelut dengan basket dan Converse, Chuck memilih undur diri dari dunia yang telah membesarkan namanya itu pada 1968. Setahun kemudian, sehari setelah merayakan ulang tahun ke-68, Chuck tutup usia akibat serangan jantung.
(mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya