Arafat mungkin mati diracun
Merdeka.com - Hari ini delapan tahun lalu, presiden pertama Otoritas Palestina Yasser Arafat wafat di Rumah Sakit Militer Percy di Ibu Kota Paris, Prancis. Penyebab kematiannya amat sumir, namun salah satu temuan baru membuka kemungkinan pejuang yang selama hidupnya melawan Israel itu meninggal karena diracun.
Stasiun televisi Aljazeera melakukan penyelidikan khusus sembilan bulan terakhir. Hasilnya, media berpusat di Ibu Kota Doha, Qatar, itu melansir laporan, Rabu (4/7), menyatakan beberapa benda dikenakan Arafat sebelum meninggal mengandung racun polonium, zat radioaktif sangat berbahaya.
Kepala Institut Radiofisika Lausanne, Swiss, Dr. Francois Bochud, menyatakan jejak polonium-210 ditemukan di baju, sikat gigi, serta kafiyeh yang dia kenakan. "Saya bisa pastikan tingkat polonium di benda-benda pribadi Arafat amat tinggi, 10 kali lipat dari ambang batas toleransi. Mengapa zat berbahaya itu ada di barang pribadinya tidak bisa dijelaskan," ujar Bochud.
Mantan pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) ini dalam kondisi sehat sebulan sebelum meninggal. Mendadak, kesehatannya langsung memburuk pada 12 Oktober 2004. Sejak saat itu, Arafat mengalami gejala diare parah, muntah berulang kali, dan berat badannya turun drastis. Dokter menyatakan dia meninggal pada 11 November 2004 dan dimakamkan di Kota Ramallah, Tepi Barat.
Gejala dialami Arafat rupanya sama persis seperti mendiang mata-mata Rusia, Alexander Litvinenko. Dia diracun polonium saat minum teh di Ibu Kota London, Inggris, dan meninggal beberapa bulan setelah pertama kali sakit enam tahun lalu.
Beberapa bulan setelah meninggal, ada banyak teori coba menjelaskan penyebab kematian Arafat. Dia sempat dicurigai mengidap HIV, leukimia, sampai kanker, tapi pihak Lausanne memastikan dugaan-dugaan itu tidak benar.
Istri mendiang, Suha Arafat, sudah meminta pihak rumah sakit militer Percy yang terakhir kali merawat suaminya memberikan contoh urine dan darah buat diteliti. Namun institusi kesehatan Prancis ini mengaku sudah menghancurkan sampel-sampel itu. "Saya kecewa dengan respon pihak (Percy). Sampel darah orang sepenting Arafat biasanya disimpan. Kesannya mereka ingin terhindar dari masalah," ujar Suha.
Satu-satunya cara membuktikkan semua dugaan itu adalah mengotopsi kembali kerangka Arafat. Masalahnya, menurut Suha, Israel kemungkinan besar tidak akan mengizinkan pengiriman jenazah dari Tepi Barat ke luar negeri. (mdk/fas)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya